Nyasar …
“Nyasar … “, gumam saya. Jam ditangan saya mengatakan bahwa saya cuma punya 15 menit lagi dari appointment. Nyasar di Korea benar-benar tidak enak. Sulit untuk menemukan arah disekumpulan huruf Hangul(tulisan Korea).
Kalau di Jakarta, saya bisa berhenti dan bertanya pada pemilik kios kecil pinggir jalan, atau pada ke sekumpulan tukang ojek. Tapi ini Korea, man ….
Beda sekali rasanya. Sejam yang lalu saya berangkat dari rumah, melaju penuh kepercayaan diri seperti tim MacLaren di Freeway, tapi beberapa menit setelah keluar pintu tol, seperti Bajaj. Pelan dan plin-plan. Celingak-celinguk mencoba mengenali arah. Tapi juga tanpa disadari saya terikut arus kendaraan lain. Berkeringat. Sampai akhirnya saya mengakui, saya tidak tahu dimana, dan harus kemana!
Itu suatu gambaran mengenai kehidupan. Saat kita tidak mengenali tujuan, tanda-tandanya yaitu:
Menjadi lambat. berkeringat. Menyia-nyiakan energy, resources. Bingung. Stress. Ikut arus. Going nowhere. Plin-plan. Kelelahan. Menerawang. Menghayal. Cemburu. underpressure.
Tapi saat kita memiliki tujuan, maka tanda-tandanya:
Percaya diri. Kecepatan maksimum, improvisasi dengan kecepatan. Efektif. Fokus. Dinamik. Adrenalin terpompa keseluruh sel. Kreatif. Berarti. Visi. Di atas angin. Ready for the best.
Hidup kita ini terlalu singkat. Ibarat Mobil, kita punya jatah bensin di tangki. Kalau saya saat ini berusia 36, maka menurut Mazmur 90:10, Fuel Level-nya ada di tengah. Wuah … sudah setengah tangki!
Apakah saya menggunakannya dengan efektif? Apakah arahnya sudah benar? Apakah prioritasnya benar? Apakah ini waktunya untuk merendahkan diri, dan mengakui bahwa kita kehilangan arah? Dan bertanya?
Saya lakukan itu …
Saya berhenti di jalanan sepi.
Membongkar bagian bagasi, mencari peta
(sebelumnya saya terlalu PD sehingga merasa tidak membutuhkannya).
Mencoba mengenali posisi saya.
Menemukan tujuan saya.
Mengenali titik-titik penting yang menjadi penuntun.
Dan dengan peta di sisi saya, semangat tim MacLaren kembali menguasai saya.
Cheers …
